Jangan Slow Down Pendidikan Anak Usia Dini, Meski Pandemi

Sumber foto: smartparent.sg

Jangan Slow Down Pendidikan Anak Usia Dini, Meski Pandemi

Anak sudah selayaknya menjadi prioritas setiap keluarga. Terlebih bagi anak usia dini. Mengapa? Karena dalam lima tahun pertama usianya, anak mengalami apa yang disebut sebagai masa keemasan (golden age).

Masa keemasan anak tak akan terulang.

Anak yang mengalami telat bicara, misalnya, menandakan ada fase tumbuh-kembang yang tidak terpenuhi. Dr. Tien Budi Febriani, M.Sc., Sp.A, mengemukakan bahwa beberapa orangtua berpikir keterlambatan tumbuh-kembang anak dapat diobati secara instan dengan obat-obatan tertentu. Hal tersebut tentu saja tidaklah benar. Gangguan perkembangan anak membutuhkan proses terapi yang tidak instan guna mengejar kekurangan yang timbul akibat pola asuh yang tidak maksimal.  Maka, pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak boleh slow down ataupun resechdule, meski di tengah pandemi,” begitu ungkap Psikolog Diana Setyawati, PhD, dalam seminar daring yang diadakan oleh iPAUD pada 12 Juli lalu.

Figure 1 Sumber: Presentasi Dr. Tien Budi Febriyani, M. Sc., SP.A
Figure 1 Sumber: Presentasi Dr. Tien Budi Febriyani, M. Sc., SP.A

Apa yang terjadi pada anak di masa golden age??

Masa keemasan anak terjadi pada lima tahun pertamanya. Mengapa dikatakan demikian? Ternyata, ada banyak hal yang sedang bertumbuh-kembang pada masa itu, yang akan menentukan kemampuan anak di masa besarnya. 

Figure 2 Sumber: Presentasi Dr. Tien Febriyani, M. Sc, SP.
Figure 2 Sumber: Presentasi Dr. Tien Febriyani, M. Sc, SP.

Apa saja aspek yang bertumbuh-kembang di masa golden age ini?

#1 Motorik Halus dan Kasar

Motorik halus terkait dengan kemampuan fisik anak yang melibatkan koordinasi mata-tangan dan otot kecil seperti menggunakan pensil, mengancingkan baju, melipat kertas dan menggunting. Sementara, motorik kasar terkait dengan gerakan tubuh yang menggunakan otot besar seperti berdiri, berjalan, berlari, memanjat, menendang, dan naik-turun tangga.

#2 Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial terkait dengan cara anak merespons keadaan sekitarnya. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosi anak. Anak yang berperilaku buruk bisa jadi disebabkan oleh gaya parenting yang mengancam atau penuh dengan tekanan/parental stress.

#3 Aspek Kognitif

Sekitar 80 persen otak anak berkembang pada periode golden age. Pada masa ini, anak mampu menyerap informasi dengan sangat cepat, tanpa bisa melihat baik atau buruk. Disini, peran orang tua untuk menjadi pengatur/penyaring paparan informasi yang masuk ke otak anak dengan pendampingan, pengawasan, serta panutan yang baik.

Figure 3 Sumber: Presentasi Diana Setyawati, Ph.D, Psikolog
Figure 3 Sumber: Presentasi Diana Setyawati, Ph.D, Psikolog
#4 Perkembangan Emosi

Emosi adalah aspek psikologis yang sangat erat terkait dengan perilaku sosial. Anak menunjukkan emosinya dimulai sejak ia bayi. Misalnya, ketika bayi terkejut, maka perilaku yang ditunjukkannya adalah menangis.

Seiring tumbuh kembangnya, anak semakin mengenal aneka emosi dan melampiaskannya dalam beragam perilaku sosial. Pada usia keemasan ini, adalah penting bagi orang tua untuk membantu anak mengenali aneka emosi yang dialaminya dan bagaimana mengekspresikannya degan baik.

Figure 4 Sumber: Presentasi Diana Setyawati, PhD, Psikolog
Figure 4 Sumber: Presentasi Diana Setyawati, PhD, Psikolog

Peran Keluarga Bagi Pendidikan Anak Usia Dini

Mengingat pentingnya masa keemasan anak, peran keluarga dalam memaksimalkan pendidikan anak usia dini sangatlah penting. Psikolog Diana Setyawati, PhD, memberikan lima tips peran keluarga yang perlu dilakukan:

#1 Utamakan kesejahteraan psikologis anak dan keluarga.

Selain kesehatan fisik, keluarga perlu untuk mendukung kesejahteraan psikologis anggota keluarganya. Salah satu caranya adalah dengan memastikan anak mendapatkan bahasa kasih yang dibutuhkannya. Bahasa kasih ini dirinci oleh Gary Chapman sebagai The Five Love Languages yang terdiri dari sentuhan fisik, waktu yang berkualitas, hadiah, pelayanan, dan pujian. 

Sumber: Pinterest.com
Sumber: Pinterest.com

#2  Buat rutinitas untuk anak.

Rutinitas terkesan menjemukan ya. Tapi, sesungguhnya mengajarkan anak rutinitas akan membangun rasa aman dan percaya diri pada anak. Hal ini karena rutinitas membantu anak untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi pada mereka sehingga menumbuhkan sense of control. Rutinitas dapat dibentuk dari anak bangun (morning routine) seperti mandi, sikat gigi, sarapan, merapihkan kamar, hingga menjelang tidur (bedtime routine).

Figure 5 Sumber: Presentasi Diana Setyawati, Ph.D, Psikolog
Sumber: Presentasi Diana Setyawati, Phd, Psikolog
#3  Berikan stimulasi sebanyak mungkin.

Stimulasi sangat membantu anak untuk dapat bertumbuh-kembang secara maksimal, baik itu terkait dengan kemampuan motoriknya, sensorik, kognitif, kecerdasan emosi, bahasa, dll. Stimulasi dilakukan sesuai dengan usia anak melalui aneka aneka kegiatan menyenangkan.

 

Figure 6 Ilustrasi Stimulasi Motorik Halus & Kognitif Anak
Figure 6 Ilustrasi Stimulasi Motorik Halus & Kognitif Anak
Sumber: IG @Kelasbunda
#4  Perdalam level komunikasi keluarga

Keluarga berkomunikasi dalam berbagai level.

Level 1: Keluarga yang tidak berkomunikasi sama sekali.

Level 2: Keluarga yang hanya berbicara seputar fakta. Misalnya “Lihat, Nak, jerapah lehernya panjang ya.”

Level 3: Keluarga yang bertukar opini. Misalnya dengan kalimat-kalimat “Menurutmu kenapa jerapah berleher panjang ya?”

Level 4: Keluarga yang berbicara tentang emosi. Di keluarga ini, anak biasa mengutarakan perasaannya, apakah senang, sedih, marah, dan lain sebagainya.

Level 5: Keluarga dengan kedekatan mendalam di mana segala hal bisa dibicarakan. Anak dapat dengan leluasa mengemukakan hal-hal yang dipikirkan atau dirasakannya. Ada orang tua yang berpikir bahwa anak-anak hanya mengerti dunia kartun. Padahal, sesungguhnya kita bisa mengajak anak berbicara tentang banyak hal disekitarnya. 

#5 Lindungi anak dari dunia internet

Tips terakhir adalah agar keluarga melindungi anak usia dini dari dunia internet. Anak usia dua tahun ke bawah tidak direkomendasikan untuk memiliki screen time. Sementara, anak dengan usia lebih besar bisa dikenalkan pada edukasi lewat gawai dengan batasan waktu dan supervisi melekat dari orangtua. Anak usia 4-7 tahun mulai tertarik untuk bereksplorasi secara mandiri. Untuk itu, orang tua perlu untuk memberikan batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi.

Menurut Dr. Tien, S.PA, pada anak usia ini, inti permasalahannya bukanlah pada bagaimana menghindari situs negatif, tetapi bagaimana agar anak tetap leluasa bereksplorasi internet secara aman.  Psikolog Diana Setyawati, Phd, menyampaikan bahwa dalam hal screen time anak, kuncinya adalah keseimbangan antara bimbingan/supervisi dan independensi.

Referensi:

Diana Setiyawati, PhD, Psikolog, Mendidik Anak Usia Dini di Masa Pandemi, disampaikan dalam Seminar Daring iPAUD, 12 Juli 2020.

Dr. Tien Budi Febriani, M.Sc., SP.A, Tumbuh Kembang Anak Dalam TInjauan Medis, disampaikan dalam Seminar Daring iPAUD, 12 Juli 2020.

https://nasional.kompas.com/read/2008/12/20/10101819/80.persen.otak.anak.berkembang.di.usia.emas

https://www.ibudanbalita.com/artikel/golden-age-dan-tahapannya-yang-perlu-diperhatikan-orang-tua

http://rumahdandelion.com/article/pentingnya-membangun-rutinitas/

mamafahima
admin@yulianasamad.com
2 Comments
  • Yusniwaty Latief
    Posted at 02:59h, 18 July Reply

    Inti tulisan Mama Fahima bagus sekali karena dapat menambah ilmu,wawasan dan acuan orang tua dalam mendidik putra putrinya yang masih dalam Usia Dini

  • Meriana
    Posted at 05:07h, 18 July Reply

    Wahh ilmu baru, it’s awesome!!

Post A Comment