Perempuan Penjaga Bumi

Perempuan Penjaga Bumi

Tanggal 5 adalah waktunya keluarga kami mengosongkan sampah pilah anorganik yang sudah dicuci-kering bersih dan menyetorkannya ke bank sampah. Ya, sejak kembali ke tanah air, urusan sampah adalah salah satu rutinitas yang paling berubah di keluarga kami.

Ketika tinggal di Amerika, hidup kami gak mikirin sampah. Memang, di sana penduduk diwajibkan untuk memilah sampah. Petugas sampah akan mengambilnya setiap hari dan membawa ke tempat daur ulang sampah. And that’s it. Tugas kami hanyalah memilah sampah. Tak perlu dicuci bersih. Tak perlu menunggu satu bulan. Cukup cemplang-cemplung setiap hari dan beres.

Pemerintah kota San Francisco (SF) memiliki ambisi sebagai kota nol sampah (Zero Waste City) pada tahun 2020 ini. Artinya, kota yang tersohor dengan Jembatan Golden Gate-nya itu menargetkan mulai tahun ini tidak ada lagi sampah yang dikubur (landfill). Sampah organik akan diubah menjadi kompos dan sampah plastik ataupun kertas akan didaur ulang. Sementara, jenis sampah lain akan dibakar untuk menghasilkan energi. 

Karena merasa punya kapasitas yang mumpuni, masyarakatpun terlena. Produksi sampah harian di apartemen tempat saya tinggal cukup banyak. Tidak jarang sampahnya luber kemana-mana. Apalagi budaya belanja di Amerika sangat tinggi. Ekonomi kapitalis memang bertumpu pada konsumerisme untuk bisa tetap tumbuh. Sementara, kemasan belanja daring di Amerika sangat sangat berlapis-lapis demi menjaga kualitas barang (overpackaging). Bubble wrap, kertas, dan kardus bisa sangat banyak hanya untuk sebuah produk kecil. Alhasil, sampahpun membludak.

Sampah Indonesia, Pandemi yang Terabaikan

Bagaimana dengan di Indonesia? Ketika kembali ke Jakarta dua tahum silam, saya selalu merasa galau ketika buang sampah. Sampah plastik, organik, beling, semua jadi satu. Akhirnya, saya berinisiatif untuk memilahnya. Suami sempat bingung melihat kelakuan saya.

“Ngapain? Capek-capek aja. Ntar juga dicampur sama abang tukang sampah,” tutur Pak Suami.

Daaan, betul saja, begitu petugas sampah mengangkutnya, dicampurnya semua sampah yang sudah saya pilah.

Di Indonesia, masalah sampah jelas bukan perkara sepele. Indonesia bahkan disebut sebagai penghasil sampah plastik terbanyak kedua di dunia, setelah China. Limbah plastik yang menyelimuti bahari Indonesia ramai diliput media dalam dan luar negeri. Alih-alih terkenal akan keindahan alamnya, Indonesia kini harus menanggung malu karena tingkat pencemaran sampah yang semakin mengkhawatirkan.

Dengan fakta ini, Indonesia kini menargetkan pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenisnya sebesar 30 persen dan pengelolaan sampah hingga 100 persen pada tahun 2025. Meskipun pemerintah optimis bisa mencapainya, faktanya tren tumpukan sampah di Jakarta justru meningkat dari tahun ke tahun, yaitu sebesar 36% pada kurun waktu lima tahun saja (2014-2019). (Tirto.id) Padahal, peningkatan penduduk Jakarta di periode yang sama hanya sebesar 4%. Artinya, peningkatan volume sampah Jakarta jauh melebihi pertumbuhan penduduknya. Apalagi di musim pandemi Covid-19, intensitas masak-memasak dan belanja online semakin tinggi. Gunungan sampah di Jakarta pun semakin tak tertangani.

Perempuan Aktor Kunci

Alhamdulillah, kegalauan saya mulai terjawab ketika bergabung dengan perempuan-perempuan hebat yang berkomitmen untuk menjaga bumi. Berangkat dari kesadaran akan gawatnya masalah sampah di Indonesia, dan juga sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Ilahi, Rumah Belajar Green & Organic (Rumbel GnO) Ibu Profesional Jakarta bertekad untuk mengkampanyekan gaya hidup minim sampah di kalangan anggotanya lewat gerakan HIjah Nol Sampah (HNS). Saya sungguh merasa terharu biru dengan dedikasi para perempuan hebat di dalam Rumbel GnO. Di tengah kesibukan domestik dan karir publik, mereka masih saja berkomitmen untuk melakukan hal yang terlihat begitu receh namun cukup menyita waktu dan tenaga.

Zero Waste Pyramid
Piramida 5R/Sumber: Ibu Profesional Jakarta

Faktanya, perempuan memang berperan penting dalam pengelolaan sampah. Perempuan adalah konsumen, disposer/pembuang sampah, kolektor sampah, penyapu jalan, operator bank sampah, bahkan juga pengrajin sampah. Dengan jumlah demografis yang tinggi, perempuan berpotensi untuk menjadi penghasil sampah terbanyak, dibandingkan dengan laki-laki. Tak dapat dipungkiri, aneka produk komersial, mulai dari pakaian, produk kecantikan, pangan, dan lain sebagainya, menyasar perempuan sebagai konsumen terbesarnya.

Di sisi lain, dengan “mandat” domestiknya, perempuan/ibu kerap menjadi kunci penentu produksi, konsumsi, dan gaya hidup keluarga sehari-hari. Seorang ibu yang berwawasan lingkungan akan memilih untuk membawa botol minum daripada membeli minuman kemasan plastik, menggunakan tas belanja kain, membawa wadah makanan ketika membeli lauk, dan lain sebagainya. Artinya, peran perempuan sangatlah besar bagi perwujudan pola konsumsi dan produksi rumah tangga yang berkelanjutan (sustainable) sehingga mampu memangkas volume sampah secara signifikan dari level hulu.

Keadilan Gender Bagi Sang Penjaga Bumi

Saya bangga telah mengenal perempuan-perempuan hebat penjaga bumi. Tapi, tanpa pendekatan yang berkeadilan gender, upaya para perempuan penjaga bumi ini bisa terhambat. Tidak jarang para suami mengeluh karena rumahnya seakan berubah menjadi tempat pemulung. Maklum saja, jadwal penyetoran ke bank sampah hanya satu kali sebulan. Jadi, sampah pilah harus mengendap di rumah setidaknya selama satu bulan, baru bisa disetor.

Begitu juga ketika diminta membawa rantang atau tupperware saat membeli makanan, tidak semua suami akan mau mengikuti saran istri. Suami saya sendiri selalu manyun bila diminta mebawa rantang atau Tupperware saat membeli makanan. Budaya patriarki yang menenggelamkan suara perempuan dalam rumah tangga memang berpotensi untuk mengancam target hidup nihil sampah yang diinisiasi oleh perempuan.

Untuk itu, dukungan terhadap gerakan lingkungan berbasis perempuan yang sudah mulai menjamur ini perlu ditingkatkan. Pemerintah harus aktif memfasilitasi partisipasi perempuan dalam hal pengelolaan sampah dengan beragam kegiatan. Beberapa yang dapat dilakukan contohnya adalah aktivitas peningkatan kapasitas (capacity building), dukungan teknis, sarana dan prasarana terkait pengelolaan sampah, maupun intensifikasi penerapan ekonomi sirkular sampah.

Selain itu, kepemimpinan perempuan dalam posisi-posisi strategis terkait pengelolaan sampah juga perlu didukung. Selama ini, umumnya perempuan lebih terlibat dalam sektor industri padat karya, misalnya dengan menjadi buruh pada pabrik pemilahan/daur ulang sampah ataupun kegiatan sukarela di bank sampah. Sementara, representasi perempuan pada posisi-posisi pembuat kebijakan terkait pengolahan sampah, baik itu dalam level masyarakat (misalnya di lingkup RT/RW), level korporat, maupun negara, amatlah minim. Padahal, dengan segala potensi yang dimilikinya, perempuan adalah agen perubahan bagi individu dan sekitarnya.

Penerapan kacamata gender juga perlu dilakukan guna menghindari penguatan domestifikasi peran perempuan di rumah tangga. Selama ini, budaya patriarki yang kental di Indonesia kerap memusatkan urusan domestik rumah tangga hanya pada perempuan semata. Sehingga, tanpa pendekatan gender yang tepat, upaya untuk menjadikan perempuan sebagai aktor kunci pengurangan sampah nasional justru berpotensi untuk menambah beban domestik perempuan. Untuk itu, kampanye pengurangan sampah nasional perlu menekankan pentingnya kemitraan yang baik antara suami dan istri dalam hal pengelolaan sampah rumah tangga.

Tanpa pendekatan yang berkeadilan gender, perjuangan para perempuan penjaga bumi ini dapat terganjal dan bahkan berpotensi untuk menimbulkan ekses negatif terhadap domestifikasi peran perempuan. Pemenuhan hak perempuan untuk mempengaruhi keputusan/kebijakan di tingkat rumah tangga, masyarakat, dan negara, serta akses terhadap beragam sumber daya lainnya menjadi salah satu kunci efektivitas upaya pengurangan sampah nasional dan perwujudan negeri yang bebas pandemi sampah.

Ragam Cara Menjaga Bumi

Di awal bergabung program HNS, saya sempat pesimis sanggup melakukannya. Rasanya, mengurus dua bocah super aktif saja sudah kewalahan. Tapi, seiring berjalannya waktu, Alhamdulilah perlahan kami mulai istiqomah memilah sampah dan meyetorkannya ke bank sampah. Kami juga berusaha sebisa mungkin untuk menerapkan prinsip-prinsip hidup minim sampah. Bahkan, beberapa tetangga di komplek juga sudah mulai ikut menampung minyak jelantah dan memilah sampah.

Apa saja sih yang bisa kita lakukan untuk menjalankan gaya hidup minim sampah? Berikut beberapa tipsnya:

  • Refuse dan reduce. Dua hal ini sangat penting sebagai dasar hidup minim sampah. Prinsipnya yaitu kita menahan diri untuk berbelanja hal-hal yang tidak kita perlukan. Jika memang perlu dan memungkinkan, cari opsi barang preloved.
  • Berusaha untuk selalu membawa botol dan alat makan sendiri setiap berpergian, termasuk ketika berbelanja makanan untuk take away.
  • Menggunakan barang-barang ramah lingkungan di dalam rumah tangga. Contohnya, menggunakan sedotan bambu atau stainless ketimbang sedotan plastik, sikat gigi bambu, gambas untuk mencuci piring, dll.
  • Bawa selalu tas belanja ketika berpergian.
  • Memanfaatkan kembali barang yang tak terpakai (upcycle), misalnya mengubah baju tak terpakai menjadi keset atau lap dan membuat aneka kreasi dari barang bekas.
  • Melibatkan anak, suami, dan ART (bila ada) dalam kegiatan pengelolaan sampah. Misalnya dalam memilah sampah, membuat kreasi upcycle, dan juga menyetor ke bank sampah. Selain menjadi terbantu, kegiatan ini juga bisa menjadi sarana edukasi bagi anggota keluarga tentang gaya hidup ramah lingkungan.
  • Mulai memanfaatkan sampah organik, misalnya dengan membuat Eco Enzyme dari sampah kulit buah atau pupuk cair dari kulit pisang dan kulit bawang.
  • Mengompos sampah organik rumah tangga. Yang paling mudah bisa dengan ditimbun di tanah saja.
  • Penting untuk bergabung dengan kawan-kawan yang memiliki visi misi sama, agar bisa saling menguatkan. Contohnya ya kelompok GnO Rumbel IP yang saya ikuti, betul-betul menjadi pengingat di kala rasa malas mulai mendera. Love you, full! :*

Gimana? Mudahkan? Yuk, ah, ikutan menjadi penjaga bumi!

*Tonton juga video Hari Bumi karya Fahima Maziyah (5 tahun)

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Nihil

mamafahima
admin@yulianasamad.com
2 Comments
  • Ellen
    Posted at 15:24h, 04 November Reply

    Masya Allah, semangat terus menjadi ranger bumi ya, Fahima 🙂

    • mamafahima
      Posted at 09:50h, 05 November Reply

      Aaamiin… doain istiqomah Ntee 🙂 and thanks for dropping by 🙂

Post A Comment