Jalan Kematian Ibu

Jalan Kematian Ibu

Jalan Kematian Ibu*

Riuh suara tangis membahana di gubuk sederhana itu. Empat bersaudara yang tak terpaut jauh usianya duduk melingkari sesosok jenazah yang telah terbungkus kafan. Hari ini, keempat anak tersebut telah berstatus sebagai piatu di usia yang masih begitu belia. Yang tertua baru menginjak kelas satu sekolah dasar. Yang terkecil bahkan belum genap dua tahun umurnya.

Suleha, sang ibu, meninggal pagi tadi di rumah sakit yang berjarak satu jam dari desa mereka. Ia meninggal dunia karena pendarahan hebat di usia kehamilannya yang menginjak delapan bulan. Ketika tiba di rumah sakit, kondisi Suleha sudah sangat lemah. Ia membutuhkan banyak transfusi darah. Namun, pasokan darah di RS tidak cukup. Suleha juga membutuhkan operasi sesar sesegera mungkin. Sayangnya, karena keterbatasan dokter dan sarana medis, Suleha terlambat ditangani. Nyawa Suleha dan sang janinpun akhirnya tak bisa diselamatkan. Kasus ditutup, berkas medis Suleha dipindahkan ke lemari arsip RS, bersama dengan setumpuk berkas medis lainnya.

***

Sebulan berlalu, berkas medis Suleha kembali dibuka. Kali ini, sejumlah peneliti datang untuk mengkaji penyebab tingginya angka kematian ibu hamil dan melahirkan di sejumlah desa, termasuk desa asal Suleha.

Nama: Suleha bin Ayub
Usia: 21 tahun
Penyebab kematian: Pendarahan

Begitu isi catatan terdepan berkas medis Suleha. Para peneliti mencatat data tersebut dan menemukan fakta menarik bahwa sebagian besar ibu hamil meninggal karena pendarahan. Mereka memutuskan untuk mendalami lebih lanjut. Rencana kunjungan ke desa asal Suleha pun mulai dijadwalkan.

***

Pagi sekali para peneliti sudah tiba di desa tempat Suleha berasal. Daftar orang yang akan diwawancarai cukup banyak. Melalui kesaksian-kesaksian mereka, diketahuilah bahwa Suleha pernah beberapa kali mengalami flek darah yang tak dihiraukannya. Ia mengira hal tersebut bukanlah sesuatu yang serius.

Para peneliti juga menemukan fakta bahwa selama delapan bulan kehamilannya, Suleha hanya sekali pergi kontrol ke bidan terdekat. Sementara, Badan Kesehatan Dunia merekomendasikan setidaknya empat kali pemeriksaan selama kehamilan. Mirisnya lagi, ketika pendarahan hebat terjadi di pagi naas itu, Suleha tak segera diantar ke rumah sakit. Baru empat jam kemudian ia bisa diantar, setelah para warga dikampungnya berinisiatif mengumpulkan uang untuk menyewa mobil yang dapat membawa Suleha ke satu-satunya rumah sakit di pusat kabupaten.

Para peneliti tersentak menemukan sejumlah fakta menyedihkan itu. Suleha, perempuan muda yang hanyalah tamatan sekolah dasar, menikah di usia enam belas tahun, dan hidup dalam kemiskinan bersama keempat anaknya. Suleha tak mengerti tentang kesehatan reproduksi. Ia bahkan tak paham tentang nutrisi dasar bagi ibu hamil. Suleha selalu medahulukan suami dan keempat anaknya untuk makan, lalu menghabiskan sisa makanan mereka. Suleha adalah orang yang paling pertama bangun di rumahnya dan paling terakhir beristirahat di malam hari. Suleha tertatih-tatih di empat kehamilan pertamanya. Hingga akhirnya, anemia Suleha bertambah parah di kehamilan kelimanya. 

***

Suleha adalah korban ketimpangan pembangunan di negeri ini. Suleha adalah bukti nyata gagalnya negara dalam memenuhi hak dasar perempuan.

Data UNICEF menunjukkan bahwa kematian ibu di Indonesia berada pada angka 177 kematian per 100.000 kelahiran. Riset menunjukkan bahwa sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh pendarahan dan komplikasi hipertensi/eklampsia, dua resiko kehamilan yang sesungguhnya bisa tertangani jika dideteksi secara dini. Faktanya, hanya sekitar 50% dari ibu hamil di Indonesia yang melakukan uji tes urin selama kehamilan, yang sesungguhnya menentukan identifikasi resiko hipertensi.

Minimnya sarana dan tenaga kesehatan profesional di daearah adalah penyebab utama rendahnya angka tes urin ini. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2019, diketahui bahwa sebagian besar posyandu di desa tidak memiliki bidan, apalagi dokter. Bahkan, ditemukan bahwa hanya sekitar enam persen dari pos kelahiran yang memiliki sarana rawat inap.

Jarak tempuh yang jauh ke rumah sakit juga menjadi penyebab utama kematian ibu hamil. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang tinggal di luar Pulau Jawa dan Bali memiliki resiko kematian enam kali lebih besar daripada mereka yang tinggal di kedua pulau utama Indonesia tersebut. Kesenjangan jarak tempuh ke rumah sakit bisa sangat besar, yaitu sekitar 0.5 km di Jakarta hingga 29 km di Sulawesi Tengah.

Jika saja Suleha tidak hidup dalam kemiskinan ekstrim.
Jika saja Suleha dapat ditangani dengan cepat ketika pendarahan terjadi.
Jika saja Suleha mendapatkan haknya untuk menempuh pendidikan.
Jika saja ada lebih banyak tenaga kesehatan di desa yang memberikan penyuluhan baginya.
Jika saja Suleha bisa memilih untuk menjarak waktu kelahiran anak-anaknya dengan lebih baik.
Barangkali ia tak harus menempuh jalan kematian ini.

Pendarahan bukanlah penyebab sesungguhnya Suleha dan janinnya meninggal dunia.
Suleha, dan ribuan ibu dan janin lainnya, meninggal karena ketidakadilan sosial.
Kita semua bisa membantu mereka.
Kita sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, sebagai sesama ibu, sebagai pengajar, sebagai apapun, kita bisa terus menyuarakan agar hak-hak dasar perempuan dapat terpenuhi.
Because one death is too many to lose a mother.

#Writober2020 #RMBIPJakarta #Pagi

*Tulisan ini diadaptasi dari Film “Why Did Mrs. X Die?” yang diproduksi oleh Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) pada tahun 1988. Film tersebut dibuat berdasarkan sebuah kuliah yang diajarkan oleh seorang dokter spesialis kandungan, Profesor Mahmoud Fathalla. Film ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang jutaan ibu dan bayi yang meninggal dalam proses kehamilan atau kelahiran.

mamafahima
admin@yulianasamad.com
1 Comment
  • Pingback:Yuliana Samad | Elementor #814
    Posted at 15:07h, 17 October Reply

    […] Rasa sedih ini berubah menjadi amarah. Bukankah Undang-Undang mewajibkan negara memelihara fakir miskin?! Mana buktinya?! Sebuah keluarga bisa tinggal di tempat yang begitu tidak manusiawi dan sangat jauh dari rasa aman, apalagi nyaman.  Entah untuk keberapa ribu kalinya, anak-anak dan perempuan di negeri ini lagi-lagi harus menjadi korban kegagalan negara dalam memberikan hak dasar untuk dapat hidup secara layak. Menjadi ibu bukanlah profesi mulia di negeri ini. Our country has failed us, so many times! (Baca juga JALAN KEMATIAN IBU ) […]

Post A Comment