Bertahan Dalam Badai

Bertahan Dalam Badai

Indonesia berduka. Rangga, seorang bocah usia 10 tahun yang tinggal di sebuah desa di Aceh, tewas mengenaskan. Ia syahid ketika mencoba membela ibunya yang hendak diperkosa. Meskipun sang Ibu menyuruhnya untuk lari menyelamatkan diri, Rangga tak surut keberaniannya dan malah mencoba memukul si pemerkosa bejat itu. Ranggapun meninggal dengan beberapa luka bacokan di tubuhnya dan jasadnya dibuang oleh sang pelaku ke sungai.

Hati ini bertambah miris melihat foto rumah Rangga yang begitu sederhana. Keluarganya tergolong sangat miskin. Sang ayah bekerja sebagai penangkap ikan di sungai dan biasa pergi saat malam hingga dini hari. Mereka tinggal di rumah yang terbuat dari kayu tipis. Rasanya saya pernah melihat kandang kuda yang ukuran dan kualitas kayunya jauh lebih bagus daripada rumah Rangga. Rumahnya juga terletak di tengah perkebunan. Sungguh terpencil dan sepi.

Rumah Rangga (Sumber: Acehtrend.com)

Rasa sedih seketika berubah menjadi amarah. Entah untuk keberapa ribu kalinya, anak-anak dan perempuan di negeri ini lagi-lagi harus menjadi korban kegagalan negara dalam memberikan hak dasar untuk dapat hidup secara layak. Menjadi ibu sepertinya bukanlah hal yang mulia di negeri ini. Our country has failed our mothers, so many times! (Baca juga JALAN KEMATIAN IBU )

Sepertinya kata terorisme seksual lebih tepat menggambarkan kebrutalan tindakan sang pelaku yang begitu dahsyat dampaknya. Sang ibu kini memikul beban berlipat-lipat dan berkepanjangan. Ia diperkosa. Ia melihat putranya dibunuh secara sadis. Belum lagi seandainya kelak ia hamil hasil dari perkosaan tersebut. Ia juga bisa saja dicerai oleh suami, sebagaimana banyak kasus-kasus perkosaan lainnya. Hatinya pasti sangat hancur, fisiknya juga masih menanggung pilu kekerasan seksual, dan psikisnya pasti sangat terganggu.

Perempuan miskin memang lebih rentan mengalami kekerasan seksual. Mereka adalah kaum voiceless. Jika kasus ini tidak sampai mengorbankan nyawa Rangga secara tragis, kemungkinan besar sang Ibu tidak akan melaporkan perkosaannya ke polisi. Korban kekerasan seksual memang kerap terbisukan oleh situasi: oleh kemiskinan yang mereka alami, oleh kebodohan karena tak tahu proses hukum, oleh norma sosial yang menganggap perempuan diperkosa sebagai aib dan tidak suci, dan oleh Undang-Undang yang sama sekali tidak berpihak kepada korban.

Sungguh mengerikan menjadi perempuan di Indonesia. Terorisme seksual merajalela dimana-mana dan justru dilanggengkan oleh negara. RUU yang disiapkan untuk memberikan keadilan bagi korban tidak juga diselesaikan oleh mereka yang mengaku wakil rakyat. Seringkali, kekerasan seksual hanya berujung pada hukuman yang ringan, jalur kekeluargaan, atau bahkan pelakunya dibebaskan karena narasi victim blaming seperti yang dialami oleh Ibu Baiq Nuril. Bisa jadi, jika kasus ini tidak sampai menghilangkan nyawa Rangga, sang pelaku masih bebas melanggeng di luar sel karena kasus perkosaan tidak pernah dianggap serius di negeri ini.

Bertahanlah, Bunda Rangga.
Bertahanlah, meski badai terasa begitu kencang.
#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Badai
mamafahima
admin@yulianasamad.com
No Comments

Post A Comment