Perempuan Di Tanah Pengungsi

Perempuan Di Tanah Pengungsi

Ambon, Maluku, Januari 1999

Suara teriakan membangunkan Wa Bure yang sedang terlelap. Ia segera duduk dan mengintip dari jendela mungil yang terletak persis di samping tempat tidur. Wa Bure tak percaya apa yang ia lihat. Orang-orang berlarian tak karuan seakan dikejar setan.  

“Lariiiii, kita orang mau dibunuh!!!” salah seorang dari mereka berteriak.

“Bapa[1], bangun! Baribot[2] orang diluar!” Wa Bure berteriak ke sang suami yang tidur disebelahnya. Digendongnya Belen si bungsu yang masih berusia satu tahun.

“Bangun bangun!! Lari!” Wa Bure berteriak sambil menggoyang badan kedua putranya yang tidur di lantai beralaskan kasur tipis.

Sejurus kemudian mereka sudah berhamburan ke luar rumah. Dengan parang di tangannya, sang suami berlari sambil menggandeng si sulung, Adeo. Mereka berlari bersama kerumunan massa lainnya. Kobaran api mulai terlihat di kejauhan. Rupanya sejumlah rumah mulai dibakar oleh kelompok warga yang mengamuk.

“Kita kemana, Mai[3]?” tanya Ademiar putra keduanya.

“Tak tahu! Lari saja! Lari jauh!” jawab Wa Bure terengah.

Kesejukan malam tak lagi terasa. Keringat bercucuran di sekujur tubuh mereka. Nafas mereka terasa sesak karena asap yang mulai mengepul di berbagai tempat.

Tiba-tiba Adeo meyusul dari belakang.

“Mana Bapa?” tanya Wa Bure masih sambil terus berlari.

“Kata Bapa kita pigi[4] lari di muka. Nanti Bapa susul.” jawab Adeo terengah-engah.

Wa Bure lemas mendengar jawaban putranya.

Tapi ia tak boleh berhenti. Ia terus berlari sambil sesekali menengok ke belakang, berharap melihat sosok Bapa.

***  


Buton, Sulawesi Utara, Maret 2000

Sudah satu tahun Wa Bure dan ketiga anaknya menjadi pengungsi di desa Wolowa, Buton, Sulawesi Tenggara. Bapa tak pernah datang. Wak Bure mendengar kabar Bapa telah tewas dalam kerusuhan di malam itu.

Bersama ratusan pengungsi kerusuhan Ambon lainnya, Wa Bure tinggal di sebuah lapangan yang disulap menjadi perkampungan pengungsi. Beberapa bulan di awal kedatangan, bantuan dari pemerintah datang setiap pekan. Berdus-dus makanan dan pakaian juga berdatangan dari berbagai organisasi sosial dan juga warga setempat.

Tiga bulan berlalu, bantuan yang datang semakin tak menentu. Kadang ada, kadang tidak. Kalaupun datang, jumlahnya jauh berkurang dari sebelumnya, tak cukup untuk dibagi kepada semua pengungsi. Tidak jarang, para pengungsi berkelahi merebutkan bantuan logistik yang datang. Tapi Wa Bure dan anak-anaknya tak mampu bersikutan dengan pengungsi lain.

Hingga suatu hari, Belen terlihat berbeda. Tak ada tangis rewelnya seharian penuh. Wa Bure mengusap minyak ramuannya ke seluruh tubuh putri bungsunya itu. Tak ada reaksi. Belen hanya terpejam dengan nafas melemah. Wa Bure dan kedua putranya menguatkan doa untuk kesembuhan Belen. Namun takdir berkata lain. Belen meninggal dunia karena malnutrisi.

Wa Bure terpuruk. Berhari-hari ia tangisi kepergian Belen. Tak henti ia pandangi dewangga yang biasa menyelimuti tubuh mungil Belen. Sesosok tubuh tiba-tiba bersandar di lengan Wa Bure.

“Mai, Adeo lapar,” suara putra sulungnya terdengar pelan.

Wa Bure tersentak. Ia pandangi wajah dua putranya bergantian. Mereka terlihat begitu kurus.

Wa Bure segera bangkit. Ia tak mau mereka bernasib sama.

“Mo pigi mana, Mai?” tanya Adeo bingung melihat ibunya tiba-tiba berjalan ke arah pintu.

“Mo ke laut, Nak. Pigi cari rumput laut. Kalo dapat banyak, Mai bisa jual di pasar,” jawab Wa Bure mencoba bersemangat.

“Titip adekmu ya. Jangan ko nakal!” pesannya sambil mengusap kepala putra sulungnya itu.

Wa Bure sadar menyerah bukanlah pilihan.

Ia lupakan harapannya untuk kembali ke kampung halaman.

Rumahnya hancur, hartanya tak bersisa sedikitpun.

Meski lelah, Wa Bure harus bertahan, dengan segala keterbatasan, di kampung pengungsian.

***

Seringkali konflik membawa dampak yang lebih besar bagi perempuan. Wa Bure dan jutaan perempuan penyintas lainnya mendadak berubah peran menjadi kepala keluarga (KK) karena kehilangan suami. Perempuan pengungsi memiliki beban lebih karena harus tetap mengurus anggota keluarga, meskipun ia sendiri dalam keadaan trauma. Belum lagi ancaman kekerasan seksual yang mengintai perempuan di pengungsian. Perempuan pengungsi juga rawan terabaikan hak-hak dasarnya, termasuk hak dalam menerima bantuan.

Data Biro Pusat Statistik (BPS) menujukkan bahwa jumlah keluarga di Indonesia yang dikepalai oleh perempuan meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2015, BPS mencatat adanya 9,6 juta keluarga yang dikepalai oleh perempuan. Angka ini meningkat menjadi 10.31 juta pada tahun 2018 dan sebagian besar dari keluarga ini tergolong kelompok ekonomi paling rentan (sangat miskin).

Angka BPS ini hanya mencakupi janda mati dan janda cerai. Sementara, organisasi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) mendefinisikan perempuan kepala keluarga sebagai perempuan yang menanggung beban keluarga. Termasuk dalam definisi ini diantaranya adalah istri yang suaminya sakit berkepajangan dan tak lagi produktif, perempuan yang memiliki anak tanpa menikah, istri yang ditinggal pergi bertahun-tahun tanpa kabar, tanpa dinafkahi dan tidak juga dicerai, dll. Artinya, angka perempuan kepala keluarga sesungguhnya bisa jadi jauh lebih besar daripada data BPS di atas.

_____________________________
[1] bapa = bapak dalam bahasa Ambon
[2] baribot= ribut-ribut
[3] Mai = ibu
[4] pigi=pergi
#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Dewangga

Arti kata “dewangga” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kain yang bergambar-gambar indah, bercorak biru atau kuning pada dasar merah.

mamafahima
admin@yulianasamad.com
No Comments

Post A Comment