Perempuan & Diplomasi Seni Budaya Indonesia

Perempuan & Diplomasi Seni Budaya Indonesia

Siang itu saya dan suami berkesempatan menghadiri sebuah acara seni budaya yang diadakan oleh Mahasiswa Indonesia di University of California, Berkeley (UC Berkeley), Amerika Serikat. Acaranya diadakan di sebuah taman kecil tak jauh dari kampus tersohor itu. Kami tiba sekitar pukul tiga sore. Cuaca cerah dan angin sejuk menyambut kedatangan kami.

Kami berjalan kaki dari parkiran mobil menuju ke lokasi acara. Dari kejauhan, telinga saya menangkap suara yang sangat familier. Aahh…, itu suara gamelan. Saya mempercepat langkah tak sabar ingin segera sampai. Begitu tiba, senyum saya melebar karena yang memainkan gamelan itu adalah para pria dan wanita bule lengkap dengan pakaian tradisionalnya. Para penampil pria memakai beskap dan blankon dan yang perempuan terlihat cantik dengan kebaya dan jariknya. Waah, pemandangan langka yang membuncahkan rasa bangga. Melihat wastra nusantara dipakai di dalam negeri sepertinya sudah biasa. Tapi, melihat orang asing memakainya di luar negeri, apalagi di negeri Paman Sam yang identik dengan modernitasnya, adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Wastra nusantara memang menjadi bagian dari diplomasi seni budaya Indonesia. Diplomasi ini penting untuk melestarikan dan mempromosikan warisan budaya nasional, tidak hanya ke warga asing tapi juga ke komunitas diaspora Indonesia. Di berbagai acara kedutaan, saya bertemu dengan generasi bangsa yang lahir dan besar di Amerika Serikat. Mereka berbicara full bahasa Inggris. Orang tua sesekali mengajak bicara dengan bahasa Indonesia, tapi yaa dijawab dengan bahasa Inggris lagi, hihi… Nah, sedih sekali bukan jika anak-anak berdarah Indonesia ini sampai tak tahu tentang aneka wastra nusantaranya yang sangat apik, baik desain maupun proses pembuatannya. Oleh sebab itu, diplomasi budaya menjadi salah satu prioritas tiap kantor perwakilan Indonesia, bekerja sama dengan diaspora setempat.

Contohnya di UC Berkeley. Kampus ternama ini memiliki komunitas khusus untuk para pecinta budaya Indonesia. Saya sangat beruntung bisa bertemu dengan salah satu penggerak utamanya yaitu Ibu Ninik Lunde. Ibu Ninik adalah seorang dosen pengajar Bahasa Indonesia di kampus UC Berkeley selama lebih dari dua puluh tahun. Kecintaan beliau pada seni tari Indonesia ditularkan kepada para mahasiswa dan juga masyarakat San Francisco bay area lewat berbagai kelompok kesenian tradisional seperti UC Berkeley Gamelan Sari Raras, Lestari Indonesia Group, dan masih banyak lagi.

Kelompok Tari Lestari Indonesia Pimpinan Ninik Lunde/Sumber: Facebook Lestari Indonesia
Selain Ibu Ninik, ada juga kelompok perempuan Indonesia yang aktif mempromosikan aneka wastra nusantara yaitu Komunitas Cinta Berkain (KCB). Komunitas ini memiliki misi untuk menguatkan identitas bangsa melalui seni busana Indonesia. KCB adalah salah satu kelompok yang aktif mendukung kegiatan-kegiatan Kedutaan dalam promosi seni budaya, misalnya dalam perayaan berbagai Hari Nasional ataupun acara persahabatan bilateral negara. Saat ini, pemakaian kain tradisional sudah sangat bervariasi ragam dan caranya tergantung tempat dan situasi, tidak melulu formal dan juga tidak hanya terbatas bagi kaum hawa.

Wuih keren ya!! Perempuan-perempuan Indonesia memang selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan bangsa. Salah satunya ya lewat diplomasi budaya ini. Perjuangan mereka patut diapresiasi penuh oleh negara dan kita semua. Nah, kalau yang di luar negeri saja semangat dengan kecintaannya kepada wastra nusantara, kita yang di tanah air jangan mau kalah, dong! 🙂

ARTI KATA WASTRA DALAM KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA ADALAH KAIN TRADISIONAL YANG MEMILIKI MAKNA DAN SIMBOL TERSENDIRI YANG MENGACU PADA DIMENSI WARNA, UKURAN, DAN BAHAN, CONTOHNYA BATIK, TENUN, SONGKET, DAN SEBAGAINYA.

#Writober2020
#RBMIpJakarta
#Wastra
mamafahima
admin@yulianasamad.com
2 Comments
  • Helena
    Posted at 15:20h, 03 November Reply

    Hai Mbak, salam kenal
    Di luar negeri, wastra nusantara menjadi populer dan dipakai para bule
    di Indonesia, penduduknya menggandrungi hal berbau Korea
    Ini seperti pertukaran budaya >,<

    • mamafahima
      Posted at 09:59h, 05 November Reply

      Hi, mba Helena 🙂
      lahiya yaaa, dipikir2 kok jadi miris, di luar negeri kita semangat promosi budaya bangsa, di dalam malah jadi serba ke-korea2-an. >’<

Post A Comment