Ibu Bukan Superwoman

Ibu Bukan Superwoman

Rasanya ketika remaja dulu tidak pernah terbayangkan betapa besar perubahan dalam hidup ini ketika menjadi orangtua kelak. Tidak membekas di dalam ingatan saya tentang nasihat-nasihat bagaimana peran sebagai seorang orangtua harus dijalankan. Barangkali ada pikiran bahwa menjadi orangtua adalah sebuah proses alami yang tak perlu dipelajari. Mengalir begitu saja. Begitu mungkin yang dipercayai oleh banyak orang.

Namun sesungguhnya, menjadi orangtua bukanlah perkara sepele. Imam al-Ghazali rahimahullah mengibaratkan anak sebagai mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk, dan dapat condong kepada segala sesuatu. Apabila anak dibiasakan dengan kebaikan, maka ia akan tumbuh di dalam kebaikan. Sebaliknya, jika keburukanlah yang senantiasa mengisi hari-harinya, maka anak tersebut akan celaka dan mencelakakan kedua orangtuanya.

Orangtua memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pendidikan anak. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Maka, barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar.” MaasyaaAllah, begitu pentingnya mendidik anak sampai-sampai kelalaiannya disetarakan dengan sebuah kejahatan besar.
Besarnya peran orangtua dalam pendidikan anak tercermin jelas dalam sejumlah ayat di dalam Al-Qur’an. Diantara beberapa kisahnya dapat dilihat pada kisah Nabi Ibrahim as, Nabi Nuh as, dan Nabi Ya’qub didalam Al Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 132-133. Begitu pula dengan pelajaran yang dapat kita petik dari nasihat Luqman terhadap anaknya (Al Qur’an surat Luqman ayat 13). Yang menarik, dialog-dialog parenting yang disuguhkan di dalam Al-Qur’an paling banyak terjadi antara sosok ayah dan anak. Nah, pertanyaannya, seberapa banyak ayah zaman now yang membersamai anak-anaknya dengan dialog peradaban yang “bergizi”?

Sayangnya, peran ayah di negeri ini kerap mentok sebagai pencari nafkah semata. Segala urusan tetek bengek anak diserahkan kepada ibu. Selama uang sekolah terbayarkan dan nafkah bulanan terpenuhi, maka tugas ayah sudah beres. Persepsi masyarakat yang memandang hal pengasuhan anak adalah tugas ibu semata juga menjadi faktor minimnya peran ayah dalam pendidikan anak. Jika anak malas belajar atau mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dan lain sebagainya, orang-orang akan mencibir ibunya. “Kok ga diajarin sih sama mamanya? Ibunya ngapain aja, sih? Ibunya pemalas sekali.” Ah, sungguh tidak adil! Mengapa tidak kita pertanyakan peran sang ayah? Ibu memang adalah madrasah bagi anak-anaknya. Tapi perlu diingat, ayah adalah kepala sekolahnya.

Di tengah pandemi ini, Allah seolah ingin mengembalikan basis pendidikan anak kepada keluarga. Namun sedihnya, lagi-lagi banyak ayah yang tak merasa perlu mengambil bagian dalam peran pendidikan anak. Betapa banyak ibu yang dipaksa menjadi superwoman, melakukan segalanya sendirian. Sampai-sampai muncul beberapa berita tentang ibu yang menyiksa anaknya karena tak mau sekolah daring. Kalau harus mengerjakan segalanya sendiran, ya bantu cari nafkah, menjadi guru, koki, tukang cuci, dokter keluarga, dan semua semua, percaya deh, superwoman pun nyerah.

Yuk, parents, jadikan momen pandemi ini sebagai titik tolak baru dalam perjalanan kita sebagai orangtua. Hadirkan secara utuh peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak. Mereka adalah amanah-Nya dan kelak pasti kita akan dimintai pertanggungjawaban.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Titik
mamafahima
admin@yulianasamad.com
3 Comments
  • Pingback:Yuliana Samad | Merajut Asa, Meraih Cita
    Posted at 07:40h, 28 October Reply

    […] Di Indonesia sendiri, meskipun Kementerian yang khusus menangani isu-isu perempuan sudah didirikan selama bertahun-tahun, faktanya, hak dasar perempuan di negeri ini kerap terabaikan. Keterbatasan dana dan ketidakberdayaan Kementerian untuk meng-enforce kebijakan pengarusutamaan gender menjadikan langkah-langkah pemerintah seolah mandul. Bahkan, di tengah pandemi ini, lagi-lagi pemerintah menunjukkan bias gendernya dengan memprioritaskan pegawai perempuan untuk bekerja dari rumah agar bisa mendampingi anak belajar. Ini berarti, pemerintah tidak melihat pria/ayah memiliki tanggung jawab yang sama besarnya bagi pendidikan anak. Hasilnya, banyak ibu bekerja yang kewalahan karena harus mengambil segala peran di rumah, sebagai pekerja, pendidik, dsb. Baca Juga Ibu Bukan Superwoman. […]

  • Amirah
    Posted at 13:21h, 18 November Reply

    Fakta yg tak terbantahkan, working mom or full time mom tetep aja kegiatan domestik jadi kewajiban perempuan sepertinya, tp semua tergantung bagaimana kesepakatan antara kita dan pasangan sebetulnya

    • mamafahima
      Posted at 01:42h, 19 November Reply

      Heloo Mirah! Yup, setuju bgt. Marriage is about partnership.
      Tks for dropping by! 🙂

Post A Comment