7 Hal Yang Perlu Diketahui Ketika Terkena Covid-19

7 Hal Yang Perlu Diketahui Ketika Terkena Covid-19

Covid-19, virus satu ini sudah setahun menjadi momok bagi dunia. Angka infeksi di Indonesia bahkan sudah mencapai satu juta lebih.

Di penghujung tahun 2020 lalu, empat orang keluarga saya terinfeksi Covid-19. Bingung, panik, sedih, berkecamuk jadi satu. Apalagi, yang kena Covid adalah kedua orangtua yang menginjak usia 70 tahun dan berkomorbid. Papa memiliki riwayat hipertensi, bronkitis, dan stroke. Sementara itu, Mama memiliki riwayat jantung. Benar-benar momen yang menguras tenaga, emosi, dan pikiran.

Sedih itu wajar, tapi kita nggak boleh panik. Pikiran harus tetap tenang supaya bisa menentukan hal-hal yang harus dilakukan selanjutnya.

Apa saja sih yang bisa kita lakukan bila kita atau keluarga terpapar Covid-19? Menurut protokol kesehatan yang berlaku, dan menurut pengalaman saya, ini nih yang bisa dilakukan bila kita atau keluarga ada yang terkena Covid-19.

1. Observasi Dini

Begitu tahu telah terinfeksi Covid-19, segera pantau hal-hal berikut:

  • Berapa nilai Ct Value?

Hasil swab orang yang positif biasanya akan menunjukkan angka Ct value. Angka ini menjadi indikator apakah virus ditubuh seseorang itu tergolong infeksius atau tidak. Semakin kecil angka Ct value, semakin tinggi potensi penularannya. Angka cut-off dimana seseorang dinyatakan negatif memiliki rentang nilai antara Ct value 36-40. Pada fase awal infeksi, biasanya Ct value seseorang berada pada level 20 ke bawah.

  • Berapa saturasi oksigen?

Saturasi oksigen adalah kadar oksigen dalam darah kita. Hal ini bisa kita pantau dengan alat yang disebut oksimeter. Menurut saya, di era pagebluk Covid-19 ini, oksimeter adalah alat yang wajib tersedia di rumah. Alat ini di jual bebas dengan harga sekitar tujuh puluh ribu rupiah. Cara pemakaiannya sangat sederhana, yaitu menjepit salah satu jari kita dengan oksimeter. Angka yang patut kita cermati adalah angka Sp02 yang biasanya terletak paling atas. Angka itu menunjukkan saturasi oksigen seseorang. Menurut WHO, seseorang bisa segera dirujuk ke rumah sakit jika saturasinya berada pada nilai 93 ke bawah.

Oksimeter juga menjadi sangat penting karena ada kasus dimana pasien tidak merasakan sesak namun sesungguhnya saturasi oksigennya sudah dibawah angka 90. Fenomena turunnya oksigen tanpa terasa ini biasa disebut sebagai happy hypoxia dan tergolong berbahaya jika tak segera ditangani.

  • Apa gejala yang dialami?

Orang yang terinfeksi Covid-19 dapat menunjukkan gejala yang berat, sedang, ringan, atau bahkan tak bergejala sama sekali (dikenal dengan istilah Orang Tanpa Gejala/OTG). Gejala yang awam dialami penderita Covid-19 adalah lemas, batuk, demam/rasa menggigil, anosmia (hilang penciuman), hilangnya indra perasa, dan sesak. Namun, ada juga kasus munculnya gejala penyakit pencernaan seperti mual dan diare. Yang saya tahu, dikatakan gejala sedang contohnya demam berhari-hari yang bahkan bisa mencapai satu minggu lebih. Sementara, gejala dikategorikan berat apabila muncul sesak nafas yang membuat seseorang sangat kesulitan untuk bernafas atau adanya komplikasi dengan penyakit penyerta.

  • Apakah ada komorbid atau tidak?

Penyakit penyerta atau komorbid sangat berperan dalam perburukan kondisi seorang pasien Covid-19. Diantara beberapa penyakit bawaan yang memberikan resiko tinggi adalah riwayat penyakit/kondisi khas paru-paru seperti asma dan TBC, riwayat hipertensi, jantung, diabetes, autoimun, dan obesitas. 

  • Berapa usia orang tersebut?

Pada umumnya, semakin lanjut usia, semakin tinggi resiko perburukan. Tapi ini tidak melulu menjadi patokan dasar, karena banyak juga kasus Covid-19 berat yang dialami oleh orang yang berusia relatif muda, terutama yang berpenyakit bawaa

2. Tracing Kontak Erat

Begitu terkonfirmasi positif Covid-19, semua kontak erat wajib melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Keluarga dekat pasien dapat meminta fasilitas swab PCR gratis dari Puskesmas setempat. Hanya saja, hasilnya tidak bisa cepat, sekitar 3-5 hari. Jadi, jika merasa sudah muncul gejala dan memiliki komorbid, saya sarankan untuk melakukan swab PCR mandiri. Saat ini harganya kisaran Rp 900ribu rupiah dengan hasil 1×24 jam. Layanannya Swab sudah sangat beragam, dari yang datang ke klinik/RS, drive through, hingga home visit. Ingat, deteksi dini sangat membantu penanganan yang cepat dan tepat. Jangan berlama-lama dalam menangani Covid-19 karena eskalasi gejala bisa tidak terprediksi, terutama pada orang yang berkomorbid.

3. Lapor ke RT dan Puskesmas

Laporkan data anggota keluarga yang terinfeksi Covid-19 kepada Ketua RT/Satgas Covid. Pihak RT akan melakukan disinfeksi ke area tempat kita tinggal dan menghubungkan kita dengan Puskesmas setempat. Pengalaman kami, komunikasi dengan Puskesmas dilakukan via whatsapp. Hal pertama yang kami sampaikan adalah kondisi umum pasien Covid (gejala, saturasi oksigen, komorbid, usia). Jika dianggap berat, maka puskesmas dapat membantu membuat rujukan ke RS terdekat. Jika ternyata isolasi mandiri dianggap cukup, maka puskesmas akan memberikan obat-obatan dan vitamin yang dapat diambil di puskesmas.

Terkait rujukan ke RS via Puskesmas, menurut pengalaman kami prosesnya bisa memakan waktu yang tidak sebentar. Mengingat kasus Covid-19 yang membludak, cukup banyak pasien yang masuk daftar waiting list rujukan, antri menunggu ketersediaan kamar di RS. Untuk itu, dalam kondisi kegawatdaruratan, Puskesmas menyarankan kami untuk langsung saja membawa ke RS terdekat.  

4. Mencari RS untuk Rawat Inap

Di tengah meroketnya angka infeksi kasus Covid-19, mencari RS bukanlah perkara mudah. Dalam pengalaman kami, ada beberapa cara dalam mencari rumah sakit, yaitu:

  • Menghubungi Puskesmas setempat

Lewat nomer kontak yang diberikan oleh Pak RT, kita bisa meminta Puskemas untuk membantu membuat rujukan ke Rumah Sakit. Rujukan hanya bisa diberikan pada pasien yang bergejala berat dengan saturasi oksigen di bawah 93 atau bila ada sesak. Hanya saja, ketika meminta puskesmas untuk merujuk, kami dikabarkan bahwa prosesnya tidak bisa cepat karena daftar waiting list cukup panjang. Sehingga, ketika itu puskesmas menyarankan kami agar langsung ke IGD rumah sakit terdekat dalam keadaan darurat.

  • Menggunakan SIRANAP

Aplikasi SIRANAP memberikan informasi tentang ketersediaan tempat tidur isolasi dan ICU Covid-19 di rumah sakit seluruh Indonesia. Cara pemakaiannya sangat mudah, kita hanya perlu menyaring dengan memilih provinsi dan kabupaten lokasi rumah sakit yang diinginkan. Namun demikian, perlu diketahui bahwa data di aplikasi/situs ini tidak real time. Sehingga, ada baiknya kita menelpon langsung ke rumah sakit untuk memastikan ketersediaan tempat melalui nomer telepon yang tersedia di aplikasi tersebut. Aplikasi SIRANAP dapat di download di playstore atau diakses di situs http://yankes.kemkes.go.id/app/siranap-yankes/

  • Langsung mendatangi IGD Rumah Sakit terdekat

Dalam keadaan darurat, kita bisa saja langsung mendatangi IGD Rumah Sakit terdekat. Pastikan rumah sakit yang kita tuju adalah rumah sakit yang memang ditetapkan pemerintah sebagai rujukan Covid-19. Bawalah hasil swab yang menyatakan positif, kartu BPJS atau KIS, dan KTP. Di RS Rujukan Covid, semua pasien positif Covid-19 tidak dikenakan biaya rawat karena dijamin oleh dana Kementerian Kesehatan RI.

5. Seputar Isoman

Seseorang yang bergejala ringan atau bahkan OTG wajib melakukan isolasi mandiri (isoman). Selama isoman, pantau terus saturasi oksigen dan gejala-gejala yang berkembang. Cukup banyak kasus dimana seseorang awalnya masih bergejala ringan namun mengalami pemburukan gejala selama masa isoman dan akhirnya harus dirawat di RS. Jadi, seringan apapun gejala awal yang kita alami, jangan lalai untuk memantau saturasi oksigen dan harus telaten mengkonsumsi segala obat-obatan dan vitamin yang diberikan.

Selain itu, hal penting lain selama isoman adalah menjaga kualitas dan kuantitas jam tidur serta asupan gizi. Nah, ini nih yang terkadang diremehkan oleh para OTG. Merasa badannya sehat-sehat saja membuat kita tergoda untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Misalnya, adik sepupu saya yang awalnya OTG dengan ct value awal 32, setelah isoman malah drop ke angka 22. Setelah diteliti, ternyata selama isoman dia sering tidur larut malam karena belajar untuk ujian. Dampaknya, yang semula ia diperkirakan negatif dalam lima hari saja, justru malah mengalami covid-19 hingga satu bulan lebih. Jadi ingat yah, harus tidur yang cukup selama isoman!

Pelajaran penting lain yang kami dapat adalah kita tidak bisa memastikan seseorang itu tidak menular setelah isoman dua minggu dan tidak bergejala, karena kualitas isoman seseorang bisa berbeda-beda. Untuk memastikan, lakukan kembali swab, baik antigen ataupun PCR, setelah dua minggu isoman.

Oya, jika tidak memiliki tempat untuk melakukan isoman, bisa diskusikan dengan Puskesmas setempat opsi isoman di Wisma Atlet atau hotel-hotel yang ditunjuk pemerintah di daerah masing-masing.

6. Jangan Remehkan Herbal

Selain menaati protokol kesehatan, di era pagebluk ini kita wajib menjaga imunitas tubuh sebaik mungkin. Sejak awal Covid-19 mendera, orang tua saya selalu mengkonsumsi aneka buah, sayur, dan herbal yang dipercaya membantu meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan Covid-19. Beberapa yang rutin dikonsumsi, selain obat-obatan dari dokter, adalah herbal Qusthul Hindi dan tetesan kayu putih. Mereka juga rajin berkumur air garam, mengkonsumsi daun kelor, berjemur sinar matahari pagi, dll. Selain pertolongan Allah, itu semua yang mungkin membuat kondisi papa mama tergolong tidak parah ketika terpapar Covid-19, padahal keduanya telah lanjut usia dan berpenyakit bawaan. Wallahu’alam bisshawaab.

7. Long Covid

Long Covid adalah istilah bagi seseorang yang telah dinyatakan negative Covid-19 namun masih merasakan gejala-gejala Covid. National Institute of Clinical Excellence (NICE) seperti dikutip di dalam detik.com menyebutkan 28 tanda long Covid, yaitu:

  • Masalah pernapasan: batuk kering, sesak napas.
  • Gejala kardiovaskular: nyeri dada, jantung berdetak cepat, sesak di dada
  • Gejala neurologis: kabut otak, kurang tidur, sakit kepala, delirium, kekurangan tidur
  • Gejala gastrointestinal: mual, diare, kehilangan selera makan, dan sakit perut
  • Gejaka muskuloskeletal: nyeri sendi, nyeri otot, gejala psikologis, depresi, kecemasan.
  • Gejala THT: kehilangan indra penciuman dan perasa, sakit tenggorokan, tinnitus, sakit telinga, dan pusing.
  • Gejala dermatologis: ruam
  • Gejala lainnya: kelelahan, demam, nyeri atau sakit.

Pasca keluar dari Rumah Sakit, kedua orangtua saya mengalami gejala long Covid tersebut, khususnya rasa lemas, linu-linu, dan selera makan berkurang. Pemulihan pasca Covid memang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Oleh karena itu, meski telah sembuh, tetaplah beristirahat yang cukup dan mengkonsumsi vitamin harian seperti vit. D, C, dan E serta herbal pendukung.

Itulah 7 hal yang perlu diketahui bila terpapar Covid-19.

Kamu punya pengalaman Covid-19 juga? Yuk share di kolom komentar yah, supaya jadi manfaat buat sesama. 

Tetap semangat, jaga imun dan iman. 🙂

mamafahima
admin@yulianasamad.com
25 Comments
  • Onchi
    Posted at 04:05h, 24 February Reply

    Good information,,

    • mamafahima
      Posted at 05:12h, 24 February Reply

      Thank you.

  • Mudiyanyo
    Posted at 04:38h, 24 February Reply

    Masya Alloh, bagus sekali Mbak Lia tilulisannya in sya Alloh sangat bermanfaat untuk para pembaca.
    Terus menulis mbak Lia untuk kemaslahatan.

    • mamafahima
      Posted at 05:10h, 24 February Reply

      MaasyaaAllah, Alhamdulillah bila bermanfaat. Siap, terima kasih, Pak Mudi 🙂

  • Fia Arfianti H
    Posted at 07:06h, 24 February Reply

    terimakasih sharing informasinya lia, karena Covid ini belum ada obatnya biasanya penderita minum banyak vitamin dan herbal agar cepat negatif tapi ada pengalaman dari suami teman yang lama negatifnya karena kata dokter overdosis vitamin dan herbal. sebenarnya sudah positif dan tidak menularkan tapi masih ada sisa bangkai virus yang terdetect makanya hasil swab masih positif. jadi saat hasil swab kita positif kita jangan panik untuk minum segala macam obat. Tentukan mau minum semua resep dokter atau pilih herbal. kunci nya imun harus tetap bagus. pikiran harus positif dan tenang bikin suasana hati selalu senang..

    • mamafahima
      Posted at 08:27h, 24 February Reply

      Wah baru denger nih, Fi, tentang overdosis vitamin dan herbal. Semua yang berlebihan memang tidak baik yah.
      Waktu dirimu konsumsi empon-empon itu apakah tetap minum obat dari dokter juga? kan ada antibiotiknya gitu yah.
      Thanks for sharing.

  • Fia
    Posted at 12:29h, 24 February Reply

    Minum mpon², minyak habatusaudah, madu hitam propolis sama lian hua, obat dari dokter hanya anti virus dan antibiotic. Selebihnya dari buah buahan dan sauna jg krn viruskan takut yg panas2 krn berjemur ga bisa dilakukan krn hrs kluar kamar dan waktu itu musim ujan jd paling efektif bakar si virus dgn sauna portable.. kbetulan dirumah udh punya

    • mamafahima
      Posted at 10:12h, 25 February Reply

      nice info, thanks Fia! Semoga kita semua sehat selaluu aamiin

  • sulfi
    Posted at 07:36h, 15 March Reply

    terima kasih sharingnya mbak… semoga bapak ibu lekas pulih ya Aaminn….

    • mamafahima
      Posted at 23:42h, 16 March Reply

      Sama-sama, Mbak. Alhamdulillah sudah jauh membaik. 🙂

  • Laksita
    Posted at 08:09h, 16 March Reply

    MasyaAllah, alhamdulillah sudah terlewati ya Mbak. Tulisannya detail dan informatif sekali, banyak sekali info yang belum aku tahu terutama soal ct value dan saturasi oksigen. Terima kasih, Mbak Lia

    • mamafahima
      Posted at 23:40h, 16 March Reply

      Sama-sama, Mba Laksita, senang bisa berbagi dan semoga sehat selalu yaa mba dan keluarga 🙂

  • Wahyu Purwaningsih
    Posted at 00:08h, 17 March Reply

    Wuih lengkap banget mba informasinya, mungkin karena berangkat dari pengalaman pribadi juga ya?
    Saya baru tahu tentang aplikasi Siranap, eh tapi ini tidak real time ya?tetap butuh konfirmasi lagi ke RSnya. Kalau urgent, better langsung ke IGD RS ya.
    Terima kasih banyak mba atas sharingnya, semoga mba & keluarga selalu diberi kesehatan yaa

    • mamafahima
      Posted at 00:50h, 17 March Reply

      Betul, mba Wahyu, Siranap sejauh ini belum real time, semoga kedepannya bisa real time spy lebih akurat data ketersediaan kamarnya. Kalau urgent, memang disarankan langsung ke IGD RS rujukan covid. Di jakarta sendiri setahu saya sudah seratus lebih RS yang dijadikan pemerintah sebagai rujukan Covid.

      Aamiin YRA. Semoga Mba Wahyu dan keluarga juga sehat selalu yaa aamiin..

  • Vidi
    Posted at 07:33h, 17 March Reply

    Alhamdulillah sudah sembuh semua ya mbaa..
    Keluarga saya juga pernah kena Covid, alhamdulillah tidak parah.. Tapi kalo pengalaman kami di Batam prosesnya lebih simpel..ketika suami positif (tes di klinik swasta), klinik itu langsung kordinasi dg puskesmas dan RS.. Jadi pasien ga perlu urus surat rujukan ini itu, atau hubungi sana sini..tinggal duduk anteng aja.. Alhamdulillah.. Pas masuk dan keluar RS juga ga diminta isi dokumen apa-apa.. pokoke simple lah gitu..
    Lain hal pas ibu saya positif (posisi di Jakarta), emang agak ribet urus ini itu..

    • mamafahima
      Posted at 01:03h, 18 March Reply

      Wah ternyata di batam jauh lebih simple yaah. di Jkt masyaaAllah kadang harus gerilya cari RS, hiks.
      Semoga cepat kelar deeh pandemi aamiin

  • Nurindah Fitria
    Posted at 09:34h, 17 March Reply

    informasinya lengkap mba. bisa jadi rujukan banget nih kalo memang ada anggota keluarga yang kena atau nunjukin gejala. Semoga kita semua sehat yaaa

    • mamafahima
      Posted at 01:05h, 18 March Reply

      Alhamdulillah jika bermanfaat. Aamiin aamiin Ya Raab..semoga sehat2 semuaa kita

  • Shalikah
    Posted at 13:03h, 17 March Reply

    MasyaAllah.. baca tulisan Mba Lia serasa deja vu. Hehe, kebetulan hampir 2 bulan lalu saya sempat covid Mba, tapi gejala ringan sedang sehingga masih bisa isoman. Betul Mba, kemarin oxymeter dan obat2 herbal menjadi barang wajib di rumah selama fase penyembuhan. Untuk saya selain vitamin, buah-buahan sangat membantu Mba, terutama ketika anosmia atau hilang rasa.
    Semoga orangtua Mba Lia segera kembali pulih total ya Mba..

    • mamafahima
      Posted at 01:07h, 18 March Reply

      Ah iya betul, buah-buahan asupan penting juga yaa. Makasih sharingnya Mba, semoga sehat walafiat selalu, ga kena covid lagi, ever! aaamiin.

  • Shafira Adlina
    Posted at 19:39h, 17 March Reply

    ya Allah Mbak, padahal sudah di atas 70 tahun ya rasanya pasti deg-degan banget lihat orang tua yang kena copit gini. Alhamdulillah Allah beri kesembuhan ya Mbak. aku baru tahu ada istilah long covid, buat mereka yang negatif tapoi masih merasakan efek dari virus ini ya. semoga kita semua dilindungi sama Allah ya

    • mamafahima
      Posted at 01:10h, 18 March Reply

      Iyaa deg2an banget waktu ituu huhu. Ammin semoga kita semua dalam lindungan-Nya selaluu.

  • Helena
    Posted at 22:54h, 17 March Reply

    Gejalanya tiap orang bisa beda-beda. Ada pula yang tanpa gejala ataupun gejala ringan.
    Aku berharap vaksinasi segera menyeluruh dan penyakit ini bisa ditekan penyebarannya.
    Btw, kalau nanti semua sudah vaksin apa bakal tanpa masker?

    • mamafahima
      Posted at 01:13h, 18 March Reply

      Sejauh ini menurut WHO masih harus tetap jaga prokes mba meski big population sudah tervaksin karena sambil wait and see apa yang bisa dilakukan vaksin dalam menekan penyebaran Covid ini. Karena penyakit baru jadi studi nya juga masih berkembang terus. Aamiin ku juga berharap semoga bisa segera kembali ke normal lama, dunia tanpa masker.

  • Ailyxandria
    Posted at 12:15h, 18 March Reply

    Waaah… lengkap banget informasinya, mbak, termasuk apa yang dirasakan setelah dinyatakan sembuh dari Covid. Temen-temen yang sembuh pun merasakan hal ini.

    Semoga orang tua dan keluarga sehat seterusnya yaaa….

Post A Comment