Cerita Dari Malaysia: Tentang Nation Building Negeri Multietnik

Cerita Dari Malaysia: Tentang Nation Building Negeri Multietnik

Akhirnya #writober lagi ;p Kali ini mau cerita seputar kegiatan aja yah, khususnya dalam berkelana sebagai pendamping diplomat. Semoga bermanfaat. πŸ™‚

***

Tidak biasanya aku berdandan rapih di pagi hari. Pagi itu aku terjadwal untuk mengikuti upacara Hari Ulang Tahun (HUT) TNI Ke 76. Acaranya diadakan di dalam sebuah aula di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Ini adalah upacara kenegaraan pertamaku sejak pertama kali menemani suami berdinas di perwakilan Indonesia terbesar di dunia ini.

KBRI Kuala Lumpur membawahi lima Konsulat Jenderal seantero Malaysia dengan total WNI yang dilayani berjumlah hampir 1,3 juta orang. Jumlah itu sekitar ΒΌ dari total diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Sebagian besar dari mereka adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di sektor non-formal. Aneka ragam kisah tentang pejuang devisa negara ini insyaaAllah akan kutuliskan di lain tema, yah. 

Para Atase Pertahanan hadir berseragam, lengkap dengan segala pernak pernik pangkat kemiliteran yang tersemat di pakaiannya. Aku tertegun takjub melihat para pria berseragam ini. Mereka terlihat begitu gagah dan berwibawa.

Langkahku menuju aula tempat upacara disambut oleh gema lagu-lagu kebangsaan yang begitu menggugah semangat. Entah kapan terakhir kali aku berada dalam suasana seperti ini. Bendera Indonesia memenuhi panggung, membuat suasana terasa semakin meriah. Sebuah layar disamping panggung memutarkan video prajurit TNI yang sedang beraksi di medan laga. Seketika rasa nasionalisme ku menggelora. Di sepanjang jalannya upacara, tak terasa pelupuk mataku menjadi basah.

Nasionalisme adalah sebuah elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia ibarat lem yang melekatkan individu-individu dengan beragam latar belakang suku, etnik, dan agama. Dalam teori konstruksivisme yang saya pelajari dulu di S1 Ilmu Hubungan Internasional, konsep nation atau bangsa adalah sesuatu yang diciptakan (imagined community), bukan given. Kita tidak semerta-merta lahir sebagai sebuah bangsa, melainkan para founding father di negeri inilah yang menciptakannya melalui proses yang disebut sebagai nation building.

Ketika tiba di Malaysia, salah satu hal yang sangat menarik perhatianku adalah tentang kehidupan tiga etnik utama di negeri ini: Melayu, Cina, dan India. Rupa ketiganya tentu sangat mencolok berbeda. Sejak tiba di bandara, aku dengan mudah dapat mengidentifikasi ketiga etnis ini. Meski terlihat berbeda, mereka semua bercakap-cakap dengan bahasa yang sama, bahasa Melayu. Mereka berbaur akrab. Tak terlihat ada β€œkubu” antara satu etnik dengan yang lainnya.

Dari hasil selancar daring, kutemukan bahwa kerusuhan etnik terbesar di Malaysia pernah terjadi pada tahun 1969. Kerusuhan yang dilatarbelakangi perseteruan politik itu menewaskan 184 orang. Setelah peristiwa tersebut, nampaknya tidak ada lagi kerusuhan atau konflik etnik yang terjadi di negeri ini. Setidaknya tidak dalam skala besar sehingga mencuat ke berita-berita nasional.

Menurutku, nation building di Malaysia terbilang berhasil. Aku bahkan kagum dengan semangat kebangsaan warga Malaysia yang multietnik ini. Bagaimanakah pemerintah Malaysia merawat semangat kebangsaan rakyatnya? Salah satu yang paling menonjol dari pengamatanku adalah melalui kampanye kebangsaan yang gigih di media massa, baik media daring maupun luring.

Selama dua minggu karantina pasca ketibaan di Kuala Lumpur, televisi menjadi hiburan satu-satunya bagi kami. Nah, pengamatanku, salah satu yang paling sering tayang di televisi lokal adalah lagu-lagu bertemakan semangat kebangsaan. Disini, mereka mengindentifikasi bangsanya sebagai Keluarga Malaysia. Ada dua lagu yang sangat sering muncul: lagu berjudul Keluarga Malaysia dan Saya Anak Malaysia. Lagunya enak, catchy, dan memang menggungah rasa kebersamaan. Anak-anak bahkan mulai hafal lagu-lagu itu dan pasti ikut bernyanyi, seakan kami adalah Keluarga Malaysia. Tidak hanya lagu, iklan di televisi maupun di fasilitas publik juga kerap mengangkat rasa nasionalisme Keluarga Malaysia.

Nah, kembali ke upacara HUT TNI yang lalu, saya kok jadi terpikir, bagaimana ya pembentukan nation building di Indonesia. Entah saya yang kuper karena jarang sekali melihat TV di Indonesia atau memang kampanye kebangsaan kita masih sangat minim? Sensitivitas antar suku, agama, dan etnik di negeri kita sepertinya masih cukup terasa. Saya masih, lho, sesekali mendapat pesan berantai yang seakan memojokkan satu golongan suku/agama/etnik tertentu. Dengan tingkat ketidakpercayaan antar etnik dan antar agama yang cukup tinggi, bangsa kita menjadi sangat rentan terpecah-belah. πŸ™

Yuk, bersama kita ambil peran. Sebagai ibu, sang pendidik generasi, kita ibarat petani yang sedang menyemai benih kebangsaan pada anak-anak. Apapun latar belakangnya, kita semua adalah satu, satu Bangsa Indonesia. πŸ™‚

#Writober2021 #Gema #Day1 

mamafahima
admin@yulianasamad.com
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.