Tembus Internasional, Tapi Tak Dikenal

Tembus Internasional, Tapi Tak Dikenal

Siapa yang tidak suka kopi? Saya yakin, sebagian besar dari kita gemar meneguk minuman pahit ini. Ketika bertugas di San Francisco, Pak Suami banyak mengurusi kegiatan promosi kopi Indonesia di negeri Paman Sam itu.

Ternyata, kopi kita sudah menembus pasar Amerika sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum saya lahir, hihi. Sejak tahun 1971, kopi asal Indonesia sudah digunakan di negeri Paman Sam ini. Empat puluh persen sumber kopi Starbucks adalah biji kopi arabika asal Sumatera, Indonesia. Tidak hanya Starbucks, perusahaan ternama lainnya seperti Peet’s Coffee dan the Coffee Bean & Tea Leaf juga setia menggunakan kopi Sumatera. Wih, bangga sekali rasanya.

Sayangnya, tak banyak warga Amerika yang tahu bahwa Sumatera itu berada di Indonesia. Kopi asal Indonesia lainnya yang juga beredar di pasaran Amerika, seperti kopi Sulawesi dan Bali juga tidak dikenal sebagai kopi Indonesia. Sementara, kopi-kopi asal negara lain mencantumkan nama negara di kemasannya. Contohnya kopi Kenya, kopi Brazil,kopi Kolombia, dan lain sebagainya. Jadi, yaa itulah kira-kira nama Indonesia tidak dikenal pecinta kopi di Amerika

Kopi Indonesia Arabica

Tampilan Kemasan Kopi-Kopi Starbucks (Sumber: Starbucks/seekpng.com)

Pentingnya Branding Indonesia

Indonesia memiliki sejuta potensi yang bisa menembus pasar internasional. Sayangnya, kita sering lemah dalam hal paten ataupun branding. Jika kepopuleran kopi Sumatera, kopi Bali, dan kopi asal Indonesia lainnya bisa di branding dengan mencantumkan nama Indonesia, tentu negara kita akan semakin dikenal dunia. Beberapa kali saya naik taksi online di Amerika, mereka bertanya negara asal saya. Saya jawab Indonesia, mereka tak paham. Begitu saya bilang Bali, “Oooh Bali yes I know!” Waduh, tepok jidat deh saya, he..he…

Sama halnya dengan Batik. Sejak 2009, Batik kita sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Dalam acara-acara diplomatik yang dituanrumahi oleh Indonesia, para tamu asing seringkali datang dengan menggunakan batik. Tapi, yang mengklaim punya kekayaan wastra berupa batik bukan cuma Indonesia. Malaysia misalnya, mereka juga mempunyai batik tersendiri.

Nah, isu paten batik Indonesia inilah yang diangkat sebagai salah satu tema utama pada Hari Batik Nasional, 2 Oktober silam. Dalam pidatonya, Ibu Negara, Ibu Iriana Joko Widodo menyoroti lemahnya paten Indonesia terhadap karya batik anak negeri. Untuk itu, beliau menekankan perlunya menjaga hak paten batik dengan memberikan brand “Batik Indonesia” dalam setiap batik nasional. Dengan diplomasi budaya dan diplomasi ekonomi ini, diharapkan Indonesia bisa semakin dikenal di dunia.

#Writober2021 #Tembus #IbuProfesionalJakarta #RBMIPJakarta

mamafahima
admin@yulianasamad.com
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.