Wajah Lain Amerika

Wajah Lain Amerika

Masih seputar cerita kehidupan di Amerika Serikat. Ketika pertama kali tahu kami akan menetap disana, terbayang bagaimana majunya kehidupan di negeri adidaya tersebut. Apalagi kalau membayangkan film-film Hollywood, sepertinya akan keren sekali.

Tapi ternyata, wajah Amerika tak melulu seperti yang disajikan di layar kaca. Kami sempat shock juga ketika melewati beberapa jalanan di tengah kota yang terasa begitu kumuh. Area ini dipadati kaum tuna wisma yang tentu saja higienitasnya sangat minim. Bahkan, kami pernah menemukan “jackpot” feses manusia tergeletak di jalanan. Iyuuuuh, untung sajaa tidak terinjak. Sejak itu, kami sangat berhati-hati setiap melewati area-area ini. Belum lagi kalau bertemu dengan mereka yang mabuk-mabukan di jalanan. Bicaranya meracau, bau tak karuan, dan kadang merusak fasilitas publik. Haduh, mengerikanlah pokoknya!

Meski terbilang maju, pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam ternyata tidak diimbangi dengan pemerataan kesejahteraan. Sudah bukan rahasia umum kalau sistem kapitalisme memang hanya berpihak pada pemegang modal. Yang kaya tambah kaya, yang miskin semakin terpuruk.

Harga sewa properti di San Francisco memang luar biasa mahal. Di tahun 2017, kami menyewa apartemen satu kamar dengan USD 2,300 atau bila dirupiahkan dengan kurs saat ini sekitar lebih dari 32 juta rupiah! Jangan bayangkan bahwa kami menyewa apartemen mewah. Harga semahal itu adalah untuk apartemen mungil tak berfunitur yang terletak dipinggiran kota.

 

Kalau di Indonesia, orang-orang yang tidak mampu membeli atau menyewa tempat tinggal, biasanya akan menumpang di rumah keluarga. Paling tidak bisa menginap di rumah keluarga inti. Nah di Amerika, budaya menumpang tinggal seperti itu tidak awam. Usia 18 tahun ke atas, mereka biasanya akan diminta untuk mandiri, tidak lagi tinggal bersama orang tua. Bagi yang tak mampu, ya biasanya akan bermuara ke kehidupan jalanan. Kalau sudah menjadi tuna wisma, masalah-masalah sosial lain pun sering mengikuti. Banyak dari mereka yang terjerat narkoba, kecanduan alkohol, masala

Memprihatinkan sekali yah. Berkesempatan untuk berkeliling dunia, melihat aneka kehidupan di berbagai negeri, sering membuat saya merefleksikan kehidupan di negeri kita. Saya bersyukur kita hidup di negara yang rasa kekeluargaannya masih tinggi. Biarpun kata orang negeri kita masih negeri “berkembang” atau malah “terbelakang”, buat saya Indonesia adalah home sweet home.

#Writober2021 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Tumbuh

mamafahima
admin@yulianasamad.com
No Comments

Post A Comment