4 Hal Menarik Tentang Djerba, Tunisia

4 Hal Menarik Tentang Djerba, Tunisia

Tunisia adalah negara pertama kami dalam mengarungi kehidupan sebagai keluarga diplomat. Tepatnya, kami tinggal di sebuah pulau bernama Djerba. Beberapa hal menarik yang saya temukan di Djerba, Tunisia adalah sebagai berikut:

Pulau Terbesar di Afrika Utara

Djerba adalah pulau terbesar di Afrika Utara. Luasnya mencapai lima ratus kilometer persegi, atau sedikit lebih kecil dari Jakarta. Namun, penduduknya tak lebih dari dua ratus ribu orang saja. Area daratan pulau ini cukup banyak yang dipenuhi oleh kebun zaitun, buah tin, dan juga kurma. Selebihnya adalah resort bagi wisatawan dan juga sejumlah pertokoan. Pesona pulau Djerba mampu menjadikannya sebagai salah satu tempat wisata favorit bagi turis Eropa, khususnya dari Prancis dan Jerman. Biasanya mereka ramai datang di musim panas, sekitar bulan Juni hingga September.

Ilustrasi Djerba, Tunisia (Sumber: Shutterstock.com)

Harmonisme Hubungan Yahudi-Muslim.

Mayoritas penduduk Tunisia beragama Muslim. Sebagian kecil lainnya adalah agama Kristen dan Yahudi. Nah, di Djerba ini ternyata ada sebuah kampung Yahudi yang cukup terkenal. Beruntung, ketika disana saya berkesempatan untuk mengunjungi kampung ini. Begitu memasuki kampung ini, saya sempat mengira ini adalah kampung Muslim karena perempuan-perempuannya berpakaian gamis panjang dan berkerudung.

Saya juga sempat memasuki sinagog, rumah ibadah Yahudi di kampung itu. Kabarnya, sinagog yang saya kunjungi ibarat rumah suci kedua bagi Yahudi setelah sinagog yang ada di Bethlehem. Di Jerba, komunitas Yahudi dan Muslim hidup harmonis, berdampingan satu dengan yang lain. Saya tak terkejut, karena ketika saya tinggal di Melbourne dan juga kelak di Amerika, Muslim dan Yahudi memiliki hubungan yang sangat baik, selayaknya satu keluarga. Sementara, konflik yang terjadi di Israel sesungguhnya adalah konflik politik Zionisme yang tak serta merta didukung oleh semua Yahudi.

Bahasa Arab dan Perancis

 

Bahasa sehari-hari penduduk di Tunisia adalah Arab yang biasa disebut dengan bahasa Arab barbar. Namun, saya menjumpai cukup banyak orang Tunisia yang juga berbahasa Perancis. Tentu saja, ini dilatarbelakangi oleh sejarah Tunisia yang memang pernah dijajah oleh Perancis. Jarang sekali penduduk yang bisa berbahasa Inggris. Alhasil, ketika disana saya sempat kesulitan berkomunikasi. Jadi ya terpaksa sesekali pakai bahasa Arab bermodal google dibantu bahasa tubuh, hihi. Oya, mereka sempat kaget ketika tahu saya tidak bisa bahasa Arab tapi saya bisa mengaji, haha. Mereka tanya, bagaimana cara saya mengaji kalau tak bisa bahasa Arab? Saya bilang, ya saya bisa membaca Quran, tapi untuk artinya harus mengandalkan terjemahan. ;p

 

Terdampak Sekularisasi

 

Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, tidak banyak orang Tunisia yang benar-benar mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh, ketika momen Idul Adha, saya sudah bersiap berangkat pagi karena kawatir tak kedapatan tempat shalat. Maklum, di Jakarta setiap Ied, tempat shalat selalu penuh. Ternyata, begitu tiba di masjid, hanya ada dua orang perempuan yang mengisi shaf. Selebihnya kosong melompong.

 

Setelah tanya-tanya ke staf lokal KBRI, ternyata memang mayoritas penduduk Tunisia jarang sholat. Yang menutup auratpun tidak banyak. Salah satu penyebabnya adalah sekulerasisasi Tunisia yang dijalankan pada masa Presiden Habib Bourgiba di tahun 1957. Ketika itu, Bourgiba bahkan melarang muslim untuk berpuasa di bulan Ramadhan, membuka hijab-hijab para muslimah yang dikenakan saat itu, dan menutup Universitas az-Zaytunah, universitas tertua di Afrika yang menjadi pusat Pendidikan Islam di Afrika dan Eropa. Sedih sekali yaa. L

 

Itu tadi empat fakta menarik tentang Djerba, Tunisia. Masih banyak fakta-fakta menarik lainnya yang insyaaAllah kutuliskan di lain kesempatan. Semoga bermanfaat!

 

#Writober2021 #Pesona #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta

mamafahima
admin@yulianasamad.com
No Comments

Post A Comment